in

Apakah Salah Jadi Mahasiswa Social – Climber?

Tidak sedikit orang yang ingin hidup mewah dengan uang berlimpah. Atau menjadi orang tajir melintir yang hidupnya bahagia sejahtera tanpa ada yang nyinyir. Ya, hidup serba berkecukupan dikelilingi barang-barang mewah dan orang-orang rupawan merupakan impian besar bagi banyak orang, tidak terkecuali kita, mahasiswa. Jika sebelumnya kita sudah pernah membahas mengenai gaya hidup hedonisme dan konsumerisme yang menghinggapi sebagian besar mahasiswa jaman sekarang, kali ini kita akan membahas salah satu penyebabnya. Ya, seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa perilaku hedonisme dan konsumerisme biasa dilakukan oleh para social climber. Dan istilah social climber sudah pernah kita bahas sebelumnya. Untuk mudahnya, kita definisikan social climber sebagai seseorang yang menggunakan segala cara untuk bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi.  Dengan kata lain, social climber ini akan melakukan beragam cara agar dapat “diakui” oleh status sosial diatasnya. Hal yang paling mencolok dari para social climber ini adalah dari lifestyle-nya. Dan menariknya, mahasiswa kini juga memiliki kecenderungan perilaku konsumerisme dengan mengedepankan brand dan kecenderungan untuk memamerkan gaya hidup mewah demi pengakuan sosial. Katakanlah men-story-kan foto di dalam butik ternama sambil mencoba barang yang ada, bergaya kalau kalau mau membeli di store ternama, atau rela merogoh kocek dalam-dalam untuk sepotong red velvet cake di sebuah cafe hits demi feed instagram supaya terkesan “mewah”.

Baik, mungkin akan ada yang berdalih bahwa itu merupakan hak setiap individu. Iya, benar, hal itu memang merupakan hak setiap individu, untuk memposting barang atau gaya hidup mewah-nya di media sosial. Sangat wajar jika yang memposting adalah anak seorang pengusaha ternama, tetapi yang menarik adalah, fenomena memamerkan gaya hidup mewah ini justru sering ditemukan pada kalangan menengah-kebawah. Nah you got the point, right?  Social climber memiliki kecenderungan senang memamerkan barang-barang mewah melalui media sosial yang tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan status sosial atau pengakuan status sosial yang tinggi dari orang lain. Kalau sederhananya,social climber ini sebagai seseorang yang berusaha menaikan status sosialnya dengan usaha tertentu yang tujuannya satu, sebuah pengakuan. Misalnya, seorang mahasiswa yang sebenarnya dari kalangan kelas menengah, berusaha untuk masuk ke lingkungan yang lebih tinggi dengan mengikuti gaya hidup ala sosialita, mulai dari berusaha memakai pakaian branded (terlepas itu asli atau KW), lalu, berusaha bergaul ala-ala sosialita seperti arisan atau party-party sampai pagi atau bahasa mudahnya, agar orang-orang dapat melihat bahwa ia adalah seorang yang kaya raya dengan beragam kemewahan yang ada.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Mahasiswa Berkantong Tipis, Kok Masih Hedonis dan Konsumeris?

Berbicara mengenai social climber, ada beberapa ciri-ciri yang menonjol, yang tentu saja, berhubungan dengan gaya hidup mereka. Beberapa ciri yang sering terlihat pada mahasiswa social climber adalah:

1. Barang branded from head to toe 

Mahasiswa yang terkena social climber biasanya senang memperlihatkan barang-barang mewah pada tubuhnya mulai dari baju merk butik ternama, tas, sepatu sampai aksesoris macam gelang atau case hape yang bermerek untuk dipakai ke kampus. Terlepas itu asli atau KW, yang penting mah branded. Instagrammaable, dan dapat mengangkat status sosial mereka, atau paling tidak orang dapat melihat bahwa semua yang ia pakai adalah barang ber-merk. Sejujurnya, saya masih tidak habis pikir, entah, mungkin cuma saya yang seperti ini tetapi menghabiskan sekian ratus ribu bahkan jutaan untuk sebuah gelang yang modelnya sama seperti tali sepatu yang mungkin kalau kamu cari tutorial diy-nya di YouTube juga ketemu, banyak di incar oleh mahasiswa hype jaman sekarang. Kalau itu berbentuk baju atau sepatu, atau tas mungkin masih logis, tetapi sebuah gelang, yang bukan emas, seharga jutaan, sesungguhnya saya tidak menemukan dimana letak mewahnya, karena kalau sudah dipakai-pun, dilihat orang yang tidak tahu brand macam saya, terlihat seperti gelang biasa.

2. Caper di sosial media

Masih tetap, untuk mendapat pengakuan, para mahasiswa social climber umumnya sering update status yang tidak berkualitas yang kerap mengundang perhatian. Misalnya seperti, “Wah, besok pakai baju yang dari butik A atau butik B yaa?” Padahal tidak ada satupun yang peduli, kecuali sesama social-climber yang memang saling bersaing popularitas. Segala upaya dilakukan untuk memamerkan kemewahan yang ia punya melalui media sosial.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Kamu yang Punya Pacar Sekampus Pasti Pernah Merasakan Hal Ini

3. Tertutup mengenai jati dirinya

Sejalan kehidupan mewah-nya yang semu di sosial media, mahasiswa social climber biasanya akan tertutup di dunia nyata. Mereka biasanya hanya akan memperlihatkan kemewahan dan menyembunyikan semua fakta tentang dirinya, apalagi jika memang fakta tersebut membuat mereka terlihat sederhana.

Dan masih banyak lagi ciri-ciri lainnya yang sebenarnya mudah terlihat gaya hidupnya. Entah mau mengakui atau tidak dan terkadang tanpa disadari, mungkin ada sebagian dari kita yang berusaha menjadi social climber. Dalam artian gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehidupan yang sesungguhnya.

Lalu apakah salah menjadi seorang mahasiswa social climber?

To be honest, menurut saya pribadi, itu merupakan hak setiap orang, untuk memilih gaya hidup-nya masing-masing. Tetapi ada hal yang dirasa kurang pas dengan gaya hidup ini jika dilakukan oleh seorang mahasiswa yang notabene masih belum berpenghasilan atau mungkin masih berpenghasilan rendah. Misalnya seperti kecenderungan untuk memaksakan diri supaya bisa masuk ke status sosial yang lebih tinggi hanya demi mendapatkan pengakuan. For the sake of dibilang kekinian, berusaha untuk membeli barang branded dengan memotong uang semesteran, atau mekso ngehits dengan tiap malem nongkrong di cafe-cafe hits yang isinya makanan seharga empat kali makan ramesan, padahal uang bulanan masih sering kurang. Berbicara terlalu “tinggi” mengenai diri-nya, yang padahal tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ke kampus harus naik motor keren atau mobil keren meski hasil minjem. Sedihnya, ada yang sampai rela tidak makan dan meminjam uang hanya untuk bisa membeli baju branded. Hanya demi pengakuan status sosial yang semu. Iya semu, karena pengakuan sosial yang sesungguhnya akan didasarkan pada penilaian yang berkala, bukan penilaian instant yang akan menghilang dalam waktu instant pula.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Hal-hal ini Cuma Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja yang Tahu

Mahasiswa lain mungkin akan ber-“wiih…” ketika melihat kita memakai pakaian branded atau tas branded dan segala kemewahan lainnya. Tetapi ingat, yang dilihat adalah barangnya, bukan kamu-nya. Berbeda jika kita sudah sukses, atau meraih prestasi tertentu yang membuat kita bisa merasakan segala fasilitas yang bagus sebagai hasil dari kerja keras kita, sebagai reward atas prestasi kita. Kenapa harus sibuk memaksakan diri untuk sebuah pengakuan yang tidak pasti?

Jangan lupa, orangtua dirumah membanting tulang, bekerja keras untuk membiayai kuliahmu. Alangkah lebih bijak jika kita mulai terbuka dan berdamai dengan keadaan, dengan tidak memaksakan diri untuk sebuah pengakuan yang semu. Jika ingin diakui, berusahalah lebih keras lagi dalam hal kebaikan, perbaiki diri, terbuka dengan segala kesempatan yang datang, dan capai cita-cita yang kamu idamkan. Nanti, pada waktunya, tanpa kita sadari, kita sudah berada di level yang berbeda dari status sosial kita sekarang. Tanpa kerja keras dan belajar dengan sungguh-sungguh, sungguh, kita hanya akan menjadi mahasiswa social climber yang haus akan pengakuan.

Tidak usah terlalu memikirkan bagaimana caranya agar ngehits dan kekinian, jika ternyata harus dipaksakan, dan tidak cocok dengan keadaan kita. Ingat, orangtua sudah “ber-investasi” dengan membiayai kita kuliah, jadi, jadilah investasi yang profitable dengan kuliah sungguh-sungguh dan raih prestasi. Jangan sampai mengecewakan orangtua dengan sibuk memikirkan bagaimana caranya agar ngehits dan mendapat pengakuan status yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. (nwrdhni)

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Mahasiswa Berkantong Tipis, Kok Masih Hedonis dan Konsumeris?

Percakapan Receh Antara Anak Kos dan Bapak Kos Ini Bikin Ngakak!