in

Dilema Mahasiswi: Menikah atau Lanjut Kuliah?

Teruntuk kamu, mahasiswi, yang mulai memasuki semester akhir, mari kita bicara yang sedikit serius.

Jika kita mungkin sudah familiar dengan pertanyaan “kapan lulus?” sebentar lagi, akan ada pertanyaan ngeri-ngeri sedap lain yang akan mampir setelah lulus. Ya, apalagi kalau bukan “kapan nikah?”. Dan masih banyak pertanyaan ajaib lainnya yang mungkin akan kita terima pada saat kumpul keluarga. Kalau sudah begitu,  kita mungkin bisa gampang saja menjawab dengan “kapan-kapan” atau “ketika Tuhan menghendaki” dan jawaban lainnya sambil berlalu, tetapi jika memang diharuskan untuk memilih; menikah atau lanjut kuliah setelah lulus, gimana?

Kita mungkin sepaham jika ini bukan suatu pilihan yang mudah. Mungkin di satu sisi, dorongan orang terdekat untuk melanjutkan study yang lebih tinggi membuatmu lebih termotivasi. Karena lajang dan berpendidikan tinggi sounds cool, tetapi disisi lain, hubunganmu dengan-nya yang sudah di jalin dari awal masuk kuliah juga semakin lama semakin kritis jika tidak dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi. Lalu yang mana yang harus dipilih?

Karena segala keputusan yang kamu ambil akan berdampak pada hidupmu kedepannya, cobalah untuk mencari solusi yang terbaik untuk semua. 

Terburu-buru mengambil keputusan tanpa berpikir panjang hanya akan membuatmu galau nantinya. Jadi cobalah untuk berpikir dengan kepala dingin, minta pendapat dari orang terdekat dan yang terpenting, coba bicarakan dengan pasangan, karena hal itu memang tidak bisa dihindari, jika nantinya kalian bersama, sudah ada kesepakatan di awal. Di satu sisi, menikah memang baiknya disegerakan, apalagi, dengan usia yang sudah masuk zona rata-rata usia menikah, pasti orangtuamu juga mau kan seperti orangtua lain mendampingi putra putrinya di hari bahagia mempasrahkan anak gadisnya pada pemuda yang menjadi pilihannya. Tetapi disisi lain, bagaimana dengan cita-cita? Apa mungkin bisa terwujud setelah menikah?

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Hal Ini Cuma Mahasiswa Tingkat Akhir yang Tau Rasanya

Tidak ada hal yang mustahil, selama sudah ada kesepakatan bersama, dan tentu saja, jika Tuhan berkehendak.

Bagaimana jika kuliah setelah menikah? Sangat bisa dan sangat mungkin. Selama Tuhan menghendaki, dan ada kesepakatan antara kamu dan suami. Tapi tentu dengan konsekuensi yang harus sudah kamu pertimbangkan sejak awal, mengingat tugasmu sudah beralih, menjadi seorang istri, dan tugas seorang istri, kata orang sih, tidak mudah. Memasak dan membersihkan rumah hanya sebagian kecil tugasmu dirumah, masih ada lagi tugas-tugas lain yang harus kamu selesaikan sebagai kewajibanmu sebagai seorang istri. Bukan tidak mungkin dilakukan, tetapi mungkin waktu yang kamu butuhkan akan lebih lama dari mereka yang masih single. Jika memang kamu mantap dengan pilihanmu untuk kuliah setelah menikah, kenapa tidak?

Tetapi jika kamu belum siap dengan segala konsekuensi kuliah setelah menikah yang harus dijalani, menunda menikah dan lanjut kuliah pun sah-sah saja.

Tentu dengan beberapa pertimbangan juga ya. Satu hal penting yang harus kamu pertimbangkan adalah kondisi keuangan keluarga. Karena seperti yang kita tahu,  untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, bukan hanya kemauan yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan, salah satunya adalah kemampuan ekonomi, karena memang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan studimu. Jika memang mantap, cobalah untuk mencari tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan selama program s2, termasuk biaya hidupmu selama masa studi. Untuk apa? Bukan bermaksud membuatmu tambah galau, tetapi mungkin bisa kamu jadikan bahan pertimbangan sehingga tidak hanya mengunggulkan argumen semu tanpa alasan. Kamu yang berniat untuk lanjut kuliah di luar kota seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo, atau Jogjakarta perlu memperhatikan biaya hidup per bulannya juga. Selain biaya hidup yang harus kamu perhatikan, melanjutkan sekolah dan menunda menikah juga berarti membuatmu harus ikhlas dengan umur yang semakin bertambah digitnya.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  5 Golongan Mahasiswa Berdasarkan cara Mengerjakan Skripsi

Mungkin kamu berpikir jika age is just a number, tetapi benarkah seperti itu?

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, satu hal lagi yang perlu kita perhatikan adalah faktor umur. Bukan tentang takut di cap sebagai perawan tua atau menikah di umur tua, tetapi lebih ke persyaratan melamar pekerjaan nantinya. Ya kita tentu tahu bahwa biasanya perusahaan mencari pekerja yang dari segi usia masih muda. Dengan keputusanmu melanjutkan studi, berarti menambah usiamu di bangku perkuliahan. Perhatikan rival pencari kerja nantinya yang pasti tidak hanya dari angkatanmu saja, tetapi juga dari angkatan-angkatan dibawahmu. If you fine with that, then go ahead. 

Karena memang tidak ada yang salah dengan perempuan berpendidikan tinggi, jadi jauh-jauhlah dari pikiran “buat apa sih perempuan sekolah tinggi-tinggi? Toh nanti ujungnya ke dapur lagi” 

Memang, nanti kita ke dapur lagi, tetapi kamu juga harus tau bahwa tidak ada ilmu yang mubazir, anakmu juga berhak memiliki ibu yang berilmu. Jadi jauh-jauhlah dari pikiran semacam itu. Jika memang kamu memutuskan untuk menikah, biarlah ibadah yang menjadi alasannya. Karena kamu perlu menjadi ibu yang berilmu, semakin banyak ilmu semakin baik. Memang ilmu tidak hanya bisa didapatkan di bangku perkuliahan, tetapi jika memang mampu, kenapa tidak menuntut ilmu dari sumber ilmunya langsung?

Namun jika orangtua sudah berkehendak, cobalah untuk menurut saja, karena tidak ada orangtua yang memilih pilihan yang buruk untuk anaknya.

Cobalah untuk manut ngendikane bapak ibu, atau dalam bahasa Indonesianya, cobalah untuk menuruti apa kata bapak ibu, karena seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, orangtua manapun pasti akan memberikan pilihan yang terbaik untuk anaknya. Jika memang orangtua menghendaki untuk menikah, dan memang kamu sudah memiliki kemampuan untuk menikah, cobalah untuk menuruti apa kata orangtua. Selain sebagai bentuk bakti, kamu mungkin pernah kan tentang “akan ada saja rejeki untuk orang yang baru menikah”. Siapa tau nanti kamu berkesempatan untuk melanjutkan studimu di kemudian hari? Who knows…

Memilih untuk menikah atau kuliah memang bukan hal yang mudah, pasrahkan diri pada Tuhan.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  MAHASISWA, SUDAHKAH JELAJAHI WISATA JOGJA BERIKUT INI?

Jika memang sudah konsultasi ke sana-sini, meminta pendapat bagaimana yang terbaik untuk semua, tetapi masih belum menemukan yang terbaik juga, hal yang bisa kamu lakukan selanjutnya adalah dengan berdoa. Bagaimana kamu akan tahu takdir Tuhan jika kamu tidak mencari tahunya? Cobalah untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan meminta petunjuk-Nya. Terkadang takdir yang diberikan mungkin tidak sesuai dengan harapan kita, tetapi mungkin itu merupakan yang terbaik untuk semua. Jadi cobalah untuk melihat segalanya dari sisi positif.

Memilih untuk menikah atau lanjut kuliah, segalanya memiliki plus minus yang tentu sudah kamu pertimbangkan sebelumnya, jadi apapun pilihanmu, itu merupakan yang terbaik menurutmu dan kehendak Tuhan. Hal yang terpenting adalah bagaimana kamu konsisten dengan pilihanmu setelahnya. Bagaimana tetap menjaga semangat kuliah meskipun tugas menjulang, atau bagaimana tetap menjaga semangat menjalani hidup setelah menikah yang katanya, tidak mudah. Apapun pilihan yang diambil, semoga yang terbaik untuk semua ya. (nwrdhni)

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Dear Introvert, Menjadi Diri Sendiri Tak Selamanya Negatif Kok

Mahasiswa dan Ketergantungan Akan Instagram