in

Mahasiswa Berkantong Tipis, Kok Masih Hedonis dan Konsumeris?

Kita tidak akan membahas tentang berapa digit uang bulananmu yang sudah pasti akan kamu habiskan sehingga akhir bulan tetap saja kembali ke mie instant. Bukan juga mau membandingkan. Karena sudah menjadi rahasia umum jika mahasiswa memang berkantong tipis, meskipun mungkin kamu malas mengakuinya karena tidak sejalan dengan gaya hidup yang sering kamu show off di sosial media. Mau berargumen jika uang bulananmu sebanyak gaji sopirnya Pak Hotman Paris? Tetap saja kan, akan habis pada waktunya karena pasti akan dihabiskan untuk hedon, tuku-tuku sing ora perlu, beli ina inu kesana kemari yang sebenarnya belum tentu ada faedahnya di hidupmu. Seberapa banyak uang bulanan yang kamu dapat, jika ekspektasi pengeluaranmu lebih banyak, anak SD juga tau, akan kurang juga. Tetapi kenapa sih masih tetap sebegitu konsumerisnya? Kenapa lebih memilih secangkir kopi seharga tiga puluh ribuan yang ada gambarnya diatas kopi sementara yang lain bisa lemburan hanya dengan sesachet kopi instan mang burjo yang ngga kalah bikin meleknya.

Perilaku hedonisme-konsumerisme yang melingkupi teman-teman mahasiswa memang kadang mencengangkan. Kenapa mencengangkan? Karena perilaku hedon tersebut berangkat justru bukan dari kalangan atas, melainkan dari menengah-ke bawah. Social climbing ditengarai jadi salah satu penyebab banyaknya social climber saat ini, tidak terkecuali dari kalangan mahasiswa. Secara singkat, social climber merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang menggunakan segala cara dan upaya agar bisa diterima oleh orang-orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Tentu semua orang ingin memiliki status sosial yang tinggi, tidak terkecuali kita, mahasiswa. Hanya saja, social climber ini seringkali tidak peduli dengan proses untuk naik ke status yang lebih tinggi dan lebih menyukai yang instant-instant. Dan hal yang paling mencolok dari social climber ini dalah tentu saja, dari lifestyle. Itu mengapa fenomena social climber ini seringkali dihubungkan dengan penyakit hedonisme dan konsumerisme yang menjangkit mahasiswa. Kebutuhan untuk diakui dan kebutuhan unutk show off di media membuat hedonisme dan konsumerisme makin subur saja di kalangan mahasiswa. Tetapi memang tidak dipungkiri, saya pun, setelah dapat uang bulanan, pasti akan tergoda untuk men-check out keranjang belanjaan di aplikasi belanja, untuk selanjutnya transfer menggunakan aplikasi mobile banking yang juga sudah ada di smartphone. Mungkin itu juga salah satu penyebab mengapa mahasiswa berkantong tipis masih bisa terlihat gaya di sosial media. Karena semakin mudahnya akses untuk berbelanja, menghabiskan uang kiriman orangtua. Kalau dulu, pun, jika mahasiswa sudah konsumeris, masih terganjal rasa mager harus keluar jalan ke mall. Kalau sekarang, mau pakai produk skin care korea biar bisa kinclong kaya Song he kyo ngga perlu jauh-jauh ke korea. Tinggal buka aplikasi belanja, order, transfer, udah, ngga sampai tiga hari paketan udah sampai.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Mengenal Karakter Tiap Generasi, Kamu yang Mana?

Sebenarnya, hedonisme itu memiliki arti yang tidak negatif-negatif amat kok. Kalau kamu pengen tau, menurut KBBI, hedonisme berarti pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sedangkan konsumerisme sendiri berarti paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai tolak ukur kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat. Dari sini kamu tentu sudah dapat menyimpulkan kan, gaya hidup mana yang sebenarnaya, kurang pas dengan mahasiswa yang notabene belum berpenghasilan, atau berkantong tipis yang seharusnya bisa hidup hemat, cermat dan bersahaja.Haha. Apalagi mahasiswa rantau yang berusaha menghidupi diri sendiri dengan uang hasil freelance setiap bulannya. Tidak kehabisan uang bulanan sebelum jatah transfer bulan depan saja bersyukur. Menahan lapar dan keinginan jalan-jalan belum lagi godaan nongkrong cantik sambil menikmati secangkir kopi seharga tiga puluh ribuan, pasti pernah kamu rasakan sebagai anak rantau yang berusaha bertahan di akhir bulan.

Tetapi sepertinya kita memang hidup dimana gaya hidup hedonisme dan konsumerisme sedang hot-hot-nya. Ibarat kata, mahasiswa dan konsumerisme saat ini seperti sayur tanpa micin. Iya, seperti sayur tanpa micin. Tak terpisahkan. Sebenarnya bukan cuma mahasiswa jaman now saja sih, karena basically, sejak beberapa tahun sebelumnya juga sudah mulai terlihat indikasi mahasiswa hedonis-konsumeris, hanya saja belum se-terlihat sekarang. Mungkin karena belum tersedianya wadah untuk show off pada waktu itu, atau belum tersedianya segala fasilitas yang sangat memudahkan seperti sekarang ini.

Jika direnungkan, pola hidup hedonisme yang erat dengan gaya hidup mewah, boros dan selalu memakai barang-barang bermerk luar negeri terkesan jauh dari kata sederhana yang sebenarnya melekat pada mahasiswa. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, mahasiswa seharusnya kan hemat cermat dan bersahaja. Haha. Di kampus tempat saya kuliah dulu juga tidak luput dengan issue hedonis dan konsumeris macam ini, sampai ada yang beranggapan bahwa kalau mau dapet cewe cakep, harus bawa stir bunder alias bawa mobil, atau minimal ya, motor ninja lah. Atau, kalau mau dapet cowo mobilan, minimal kamu putih kaya chelsea lah, atau punya badan semlohay kaya syahrini. Supaya mendapatkan penampilan oke seperti yang diidamkan guna mencapai tujuan, mahasiswa/mahasiswi ini rela memotong uang bulanan yang sebenarnya unutk kebutuhan pokok. Atau bisa dikatakan bahwa gaya hidup macam ini menghilangkan batas antara kebutuhan primer dan tersier. Mahasiswi terutama, rela suntik putih dan mengikuti skincare routine dari influencer idola guna membuat harapannya mendapat pacar ber-mobil terwujud. Lalu apa kabar nasibnya mahasiswa rantau bermotor matic yang tiap bulan dikasih duit bulanan pas-pasan cuma buat makan? Wassalam. Haha. Saya juga ingin menyoroti perilaku teman-teman saya yang hobinya haha hihi nongkrong di klab malam, dugem dan sebagainya. Bukan mau berbicara soal itu dosa atau ngga dosa, itu terserah. Yang ingin saya soroti adalah dampak terhadap gaya hidupnya yang ikut berubah. Kalau menurut saya, tidak harus mengikuti tren yang ada juga keren kok. Tidak perlu malu dibilang ngga gaul, kurang update, atau cupu dan lain sebagainya.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Tips Mengatasi Homesick

Mengikuti gaya hidup konsumerisme dan hedonisme yang sekarang sedang hangat di kalangan anak muda, mahasiswa pada umumnya, memang akan terlihat keren, kita akan otomatis “terlihat” oleh teman-teman seangkatan, tetapi yang perlu diingat adalah, kita mahasiswa, yang tugasnya adalah kuliah, dan kita belum berpenghasilan, jadi untuk apa menyenangkan diri sendiri dengan anggapan oranglain bahwa kamu memiliki segalanya padahal hanya kepemilikan semu? Begadangan setiap malam menghamburkan uang untuk haha hihi pesan minuman dan lain sebagainya, jujur, daripada begadangan di klab malam, saya lebih memilih push rank main mobile legend di kamar sambil selimutan. Haha. Atau ngobrolin masa depan, kapan ke pelaminan, dengan yang tersayang, lebih asik kan?

Mungkin setelah membaca artikel ini kamu akan berpendapat bahwa “yaudah sih, orang kaya, wajar lah kalo kuliahnya suka-suka” okay, that’s fine. Tetapi untuk mahasiswa yang statusnya masih sama seperti saya, minta uang orang tua, ayo lah kita sama-sama sadar bahwa gaya hidup macam itu masih belum cocok untuk kita terapkan di kehidupan kita. Biarlah kita dibilang ngga gaya atau ngga gaul dan ngga punya pacar bermobil yang penting bisa selesaikan kuliah yang menjadi kewajiban kita terhadap orangtua. Ingat, orangtua sudah berinvestasi dengan membayari kita kuliah, kita harus bisa jadi sumber investasi yang profitable, bukan malah sebaliknya. Dan orang akan menilai kita dari kemampuan dan prestasi yang kita punya, bukan baju Zara, topi Gucci atau tas LV yang kita punya. Memang sih, orang akan ber-“wiiih…” saat melihat kita memakainya, tetapi, hanya sementara. Dan jangan ge-er, siapa tau dia hanya mengagumi barang branded-mu, bukan kagum sama orangnya. Nah lho… haha. Kita bisa lah mencontoh om Bob Sadino yang tajir melintir tetapi tetap bersahaja dengan kemana-mana pakai kaos dan celana biasa. Ayo sama-sama belajar untuk menghargai orang bukan dari apa yang ia punya, tetapi dari pretasinya. Ayo sama-sama sudahi gaya hidup hedonisme dan konsumerisme yang memang belum cocok untuk kita, mahasiswa tak berpenghasilan tetap. Akui saja, kita memang berkantong tipis. Jadi untuk apa malu berlihat tidak necis dengan barang-barang tak ber-branded? Ingat, percaya diri berbading lurus dengan prestasi, bukan facility. 

(nwrdhni)

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Berniat Puasa Gadget? Cek Manfaatnya Disini

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

5 Alasan Kenapa Ngeblog Akan Membantumu Meraih Karier Cemerlang

Apakah Salah Jadi Mahasiswa Social – Climber?