in

Mahasiswi, Kenapa Kita Sering Nyinyir pada Kasus Pelecehan?

Dear teman-teman sesama mahasiswi,

Beruntunglah kita hidup di jaman dimana kita, wanita, diberi kebebasan sebebasnya dalam bertindak dan bersosialisasi, tidak terkecuali di dunia maya. Sangat berbeda dengan jaman dahulu kala dimana kebebasan kita sebagai wanita terbatasi status dan stigma bahwa wanita itu cuma bisa 3M, Manak (melahirkan), Masak, dan Macak (berdandan). Ya, kebebasan yang kita dapatkan kini patut kita syukuri, tetapi tetap ada konsekuensi yang mengikuti dibelakangnya. Kamu mungkin  belum tahu jika pada laporan tahunan Komnas Perempuan tercatat ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani selama tahun 2017. Lalu sebagai perbandingan, seperti yang dikutip dari Kompas, pada tahun 2016, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan.yang berarti terjadi kenaikan pada jumlah kekerasan yang dialami wanita. Dan dari jumlah tersebut, lebih dari 50 persen-nya terjadi pada wanita di rentang usia remaja sampai 30 tahun, yang berarti, kita juga masih berada di dalam rentang “waspada” kejahatan.

Sebagai mahasiswi, kita perlu waspada dan aware terhadap hal ini. Kenapa? Karena jika berbicara mengenai kejahatan yang terjadi pada wanita, ada berbagai macam bentuk kejahatan yang terjadi seperti kekerasan, baik di real life, maupun dalam dunia maya, penghakiman digital atau cyber bullying, cyber harrashment atau pelecehan seksual, persekusi baik secara online maupun tidak, maraknya situs prostitusi online berkedok agama seperti ayopoligami.com atau nikahsiri.com, ancaman kriminalisasi,  eksploitasi seksual, sampai sekedar pesan-pesan mesra yang sebenarnya merupakan salah satu bentuk halus pelecehan yang mungkin tidak kita sadari.

Mahasiswi, sebelum kita bahas lebih lanjut, kita perlu tau, apa sih pelecehan itu? Apa saja yang termasuk di dalamnya? Jadi pelecehan merupakan segala bentuk perilaku yang menjurus ke arah seksual atau merendahkan orang lain, baik secara fisik maupun verbal. Baik, mungkin beberapa dari kalian beranggapan bahwa kita akan berbicara mengenai kesalahan para pria dan betapa tidak berdayanya wanita. Oh bukan, kita tidak akan berbicara mengenai hal tersebut, lebih kepada bagaimana kita sebagai wanita, terutama mahasiswi agar lebih aware dan tau bagaimana harus bertindak jika pelecehan terjadi pada kita, karena kejahatan dan pelecehan bisa terjadi dimanapun, dan kapanpun, baik secara disadari maupun tidak disadari.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Tips Mengatasi Kecanduan Gadget

Mungkin masih segar di ingatan kita ketika pedangdut Via Vallen mendapat DM mesra dari seseorang yang berisikan pesan tidak sopan dimana ia harus mengenakan baju seksi dan datang ke kamarnya. Satu hal yang perlu kita contoh dari kasus tersebut adalah, tindakan Via Vallen untuk speak up dan tidak mendiamkan hal tersebut begitu saja. Ya, kita memang harus berani untuk melaporkan hal tersebut, atau setidaknya bertindak tegas jika hal tersebut terjadi pada kita.

Anehnya, kenapa yang sering terjadi malah victim blaming alias korban yang malah disalahkan dan di bully jika hal tersebut diangkat ke ranah dunia maya? Dan mirisnya kebanyakan yang nyinyir adalah dari kaum wanita itu sendiri. Sungguh, sejauh ini saya tidak habis pikir dan saya belum menemukan dimana letak adilnya, jika seseorang dilecehkan di sosial media kemudian angkat bicara, kenapa malah jatuhnya di bully dengan anggapan lebay, alay, gitu doang dibahas, dan banyak komentar jahat dari jempol netijen yang tercinta. Seperti pada kasus Via vallen dan Gita safitri, mungkin kita masih ingat bahwa memang banyak yang mendukung mereka dan menyayangkan pelecehan tersebut sampai terjadi pada mereka, tetapi juga tidak sedikit yang menanggap hal tersebut biasa saja, dan lebay dan gitu doang diangkat, atau anggapan-anggapan lain yang well… menurut saya pribadi, maaf, terkesan sangat rendahan, ceroboh dan mencerminkan betapa murahnya karena menganggap pelecehan sebagai hal yang biasa.

Mahasiswi, kita memang tidak seperti Via Vallen ataupun Gita Savitri yang merupakan public figure yang ya… hidupnya dipenuhi resiko untuk dilecehkan, tetapi kita juga merupakan wanita di rentang umur “bahaya” kejahatan, jadi apa salahnya kita mengantisipasi hal itu kan? Karena seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa kejahatan bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja. Bisa dirumah, di kampus, di lingkungan kerja, atau dimanapun. Jika itu terjadi pada kita atau orang terdekat kita? Apa yang bisa kita lakukan? Nyinyirin? Menganggap hal itu lebay dan alay karena diangkat ke sosmed? Well, jika itu yang biasa kamu lakukan, mungkin kita tidak sependapat.

Entah kalian pernah mendapat hal tidak menyenangkan macam ini atau tidak tetapi saya pribadi pernah dicurhati tentang hal semacam ini. Orang terdekat saya pernah mengalami semacam pelecehan yang mungkin bagi sebagian dari kalian akan menganggap hal ini sebagai gurauan atau guyon atau apapun yang tidak serius tetapi pesan-pesan mesra dari seseorang yang tidak dikenal atau tidak kenal dekat dan mengajak bertemu untuk “having fun” di sebuah penginapan atau, ajakan untuk mengirim foto-foto manis manjah memakai pakaian seksi. Dan apa yang ia lakukan? Memilih untuk diam dan cuek dan tidak menanggapi hal tersebut. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Sang pelaku terus melakukan hal tersebut lagi dan lagi, kenapa? Karena tidak ada efek jera yang diberikan, dan merasa “diperbolehkan” untuk melakukannya lagi. Lalu ada satu lagi teman saya yang lebih memilih untuk mempublish-nya di sosial media. Mengherankan, selain simpati ada yang malah membully-nya dengan kata-kata macam lebay, alay, dan malah menceramahi dengan “makanya kalo pake baju yang sopan”, padahal tidak pernah sekalipun ia mempublish foto seksi manis manjah ala anak jaman now sambil pasang pose sekseh. Dan yang mengherankan adalah pihak yang membully bukan dari kaum pria, tetapi, wanita. Okay, disini saya mulai ikut emosi.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  5 Alasan Kenapa Cewek Cantik dan Pintar Justru Susah Dapar Pacar

Oh ya, ya, baik, mungkin hal tersebut dianggap biasa karena mungkin tidak pernah terjadi pada mereka sebelumnya, atau mereka menganggap hal ini sebagai hal biasa karena memang mungkin sudah terbiasa mendapatkannya? Hmmm… Kenapa kita tidak coba untuk memasang telinga dan membagi simpati kepada korban dengan mendengarkan saja cerita mereka dan ikut mendukungnya?

Dear teman-teman sesama mahasiswi, semoga banyak diantara kalian yang belum pernah menjadi korban pelecehan, tetapi jika kalian ingin tahu rasanya, mungkin kata seperti sangat marah, sedih, bingung dan malu bisa menggambarkan rasanya menjadi korban pelecehan. Sangat marah karena diperlakukan secara tidak sopan, sedih karena dianggap rendahan, bingung mau bercerita kepada siapa dan harus berbuat apa, kemudian malu untuk membaginya dengan siapapun karena takut di-bully, kira-kira seperti itu rasanya. Jadi jika kalian tidak tahu bagaimana rasanya, marilah coba untuk tidak nyinyir dan malah membully para korban. Ayo coba gunakan hati kita untuk setidaknya tidak mengabaikan curhatan mereka karena sesungguhnya, mereka butuh untuk di dengar.

Cobalah untuk duduk sejenak dan berpikir, jika hal tidak menyenangkan tersebut terjadi pada kita, apakah kita tidak akan merasa sedih? Apakah mau di-bully padahal kita adalah korban disini? Apakah rela diperlakukan serendah itu tanpa ada keinginan untuk melawan? Kalau jawabannya iya, mungkin memang jalan pikiran kita berbeda. Mahasiswi, sebagai agent of change, beranilah untuk melawan dan jangan rela diperlakukan rendahan karena kita tidak rendah. Biar tinggi badan kita saja yang rendah, tetapi harga diri jangan. Ingat, membiarkan berarti memperbolehkan pelaku untuk melakukannya lagi dan lagi. Jadi sudah tahu kan apa yang harus dilakukan jika hal tersebut sampai terjadi? Hal yang pertama adalah speak up, bicarakan dengan orang terdekat mengenai hal ini. Yang kedua adalah berikan peringatan kepada pelaku. Jika peringatan tidak mempan? Kamu bisa memutuskan hubungan dengan pelaku dengan cara memblokir semua akun sosial media dan berusaha untuk menjauhinya di dunia nyata. Kenapa? Akan lebih aman buatmu, dan menjaga agar hal serupa tidak terjadi lagi. Ketiga, jika dirasa sudah sangat kelewatan dan mengancam, kamu bisa melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib karena ada undang-undang yang mengatur tentang hal ini. Yang terpenting adalah jangan merasa sendiri dan takut atau malu untuk membicarakan hal tersebut kepada orang terdekat. Lalu jika yang terjadi adalah orang terdekat atau teman atau kerabat yang mengalami hal ini, hal yang bisa kita lakukan adalah; satu, mendengarkan, karena sesungguhnya, para korban perlu untuk didengar, yang kedua, membantu sebisa kita dan yang terpenting adalah, berusahalah untuk tidak nyinyir dengan musibah yang terjadi.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  5 Alasan Kenapa Dosen Layak Dijadikan Calon Mantu Idaman

Mahasiswi, anggaplah kita, sebagai satu kesatuan, yang jika satu terluka yang lain ikut merasakan, bukan malah menertawakan. Semoga setelah membaca artikel ini kita dapat lebih aware terhadap segala bentuk pelecehan dan bisa lebih berusaha untuk tidak nyinyirin korban pelecehan yang sejujurnya, butuh bantuan, bukan nyinyiran. (nwrdhni)

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Mahasiswa dan Ketergantungan Akan Instagram

Waspada! Ini Bedanya Teman Tulus Dengan Teman ‘Tisu’