in

Sistem Pendidikan Indonesia Masih Ditujukan untuk Era Industri

Masih ingatkah kalian dengan soal SD pada gambar di bawah yang sempat viral karena murid tersebut mendapatkan nilai 20. Awalnya kita berpikir kenapa jawaban murid tersebut bisa salah sedangkan hasil hitungan murid tersebut benar walaupun cara pengerjaannya saja yang berbeda dari yang diajarkan guru di sekolah. Menurut guru yang bersangkutan, jawaban murid tersebut salah karena tidak sesuai dengan materi konsep perkalian. Contoh seperti soal yang ada pada gambar, murid menjawab bahwa 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6 = 24. Namun, jawaban tersebut salah karena jawaban yang benar menurut versi guru adalah 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4 = 24. Pernahkah kalian bertanya-tanya kenapa konsep perkalian yang diajarkan di sekolah seperti ini? Bukankah kita bisa mendapatkan hasil yang sama dengan cara pengerjaan yang berbeda?

https://nasional.sindonews.com/read/903821/144/heboh-guru-sd-beri-nilai-20-meski-jawaban-pr-benar-1411349818

Hal tersebut adalah salah satu contoh apabila murid ingin menjawab dengan benar harus mengikuti langkah-langkah yang diajarkan buku dan yang diajarkan guru di sekolah. Di satu sisi, hal tersebut bisa memberikan dampak baik karena dapat mempermudah para guru mengajarkan konsep perkalian ke murid-murid. Namun, hal tersebut juga bisa memberikan efek buruk ke murid-murid. Lho bagaimana bisa? Kan konsep perkalian dalam matematika memang seperti itu mana mungkin memberikan efek buruk? Mengajarkan konsep itu memang baik. Namun, pernahkah kalian berpikir kalau mengajarkan hal yang sama dengan cara yang sama dan sudut pandang yang sama itu dapat membatasi kreativitas siswa? Bayangkan apabila menjadi seorang murid yang memiliki cara berpikir yang sedikit berbeda. Namun, hal tersebut hanya diapresiasi oleh guru dengan statement “Walaupun jawaban kamu benar tapi cara mengerjakannya salah. Begini cara yang benar”. Murid yang awalnya mampu untuk berpikir out of the box, akan merasa ‘ketakutan’ di kemudian hari apabila tidak mengikuti aturan yang diajarkan.

http://www.supplychainquarterly.com/issues/2007/03/images/artwork/scq200703warehouse_artwork.jpg

Kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan guru, karena guru sekali lagi juga harus mengikuti aturan-aturan yang tercantum pada kurikulum. Kita mengenal beberapa kurikulum yang pernah diterapkan oleh pemerintah, beberapa contohnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Kurikulum 2013 yang hingga saat ini masih diterapkan. Semua sekolah dari Sabang sampai Merauke harus menggunakan kurikulum yang sama pada eranya tak peduli apakah sekolah tersebut memiliki fasilitas dan sumber daya manusia (guru dan tenaga pendidikan) yang memadai atau tidak. Anak-anak yang bersekolah di remote area mempelajari materi yang sama seperti anak-anak yang bersekolah di kota besar. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak yang bersekolah di daerah terpencil dituntut memiliki kompetensi yang sama seperti anak-anak yang bersekolah di kota. Bukankah ini suatu wujud ketidakadilan mengingat potensi di tiap-tiap daerah itu berbeda?

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  5 Alasan Kenapa Dosen Layak Dijadikan Calon Mantu Idaman

Dampak dari penyeragaman kurikulum yang tidak adil ini bisa kita amati di kehidupan nyata. Pada mata pelajaran IPA kita kerap disuguhi dengan materi cara menghitung kelajuan kereta. Untuk anak-anak yang tinggal di Pulau Jawa dan Sumatra, kereta bukanlah hal yang asing karena pernah melihat secara langsung. Bagaimana dengan anak-anak yang tinggal di Indonesia bagian Timur yang tidak pernah melihat kereta secara langsung karena tidak ada kereta di sana? Anak-anak tersebut jelas mengalami kesulitan tersendiri dalam mempelajari materi tersebut karena mereka tidak tahu bagaimana wujud kereta itu sebenarnya. Beruntung pula anak di perkotaan yang mendapat akses internet yang bisa mempermudah mereka untuk mencari informasi apapun. Bagaimana dengan daerah terpencil yang jangankan akses internet bahkan akses untuk listrik pun belum ada? Hal ini jelas-jelas tidak adil karena menilai output dari input yang sangat berbeda dan tidak setara.

Sistem pendidikan yang seragam ini semakin diperparah dengan kondisi pasar. Jumlah kursi mahasiswa di perguruan tinggi untuk jurusan-jurusan favorit seperti Ekonomi, Manajemen, Hukum, Kimia, Kedokteran, Matematika, Teknik, Bahasa Inggris, dan lain-lain kuotanya jauh lebih besar daripada jurusan lain seperti jurusan seni. Kenapa? Karena jurusan-jurusan tersebut banyak peminatnya. Tidak mengherankan apabila jurusan-jurusan tersebut menjadi favorit karena lulusannya banyak dibutuhkan oleh industri. Berbeda nasibnya dengan lulusan di bidang seni yang kebutuhan pasarnya sedikit.  Ketersediaan kuota pendidikan yang lebih mengutamakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan industri inilah yang membuat outputnya menjadi kurang bervariasi. Hasilnya saat ini banyak sekali lulusan sarjana yang menganggur.

Dari paparan contoh realita di atas, tampak jelas bahwa sistem pendidikan Indonesia ditujukan untuk Era Industri. Kenapa? Menurut Irvin Toefler pembagian sejarah peradaban terbagi dalam tiga gelombang: 1) Era Pertanian, 2) Era Industri, 3) Era Informasi. Era Industri dimulai pada abad ke-15 setelah Era Pertanian mulai mengalami perubahan. Ciri utama pada Era Industri adalah kesuksesan seseorang dominan ditentukan oleh IQ yang dimilikinya. Pemikiran umum yang ada pada era ini adalah semakin tinggi pendidikan yang diperoleh seseorang, maka semakin besar kemungkinannya untuk menjadi orang yang sukses karena akan banyak sekali perusahaan yang menawarkan pekerjaan pada orang tersebut. Profesi yang sangat populer pada Era Industri adalah buruh dan karyawan. Ciri utama tersebut sangat kental sekali dengan sistem pendidikan di Indonesia saat ini yang masih mengutamakan kebutuhan industri. Sebenarnya sistem pendidikan yang masih mengutamakan lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan Industri sudah kurang relevan untuk saat ini karena menurut sejarah Era Industri telah berakhir pada tahun 1989 ditandai dengan penghancuran tembok Berlin.

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Waspada! Ciri – ciri ini Menunjukkan Kamu Kecanduan Gadget

Setelah Era Industri berakhir maka muncul era baru yang bernama Era Informasi yang ditandai dengan kehadiran media informasi yang dapat digunakan oleh semua orang di seluruh dunia yang bernama Internet. Dunia IT atau Informasi dan Teknologi sangat berpengaruh pada Era Informasi seperti yang terjadi saat ini. Berbeda dengan Era Industri dimana kesuksesan ditentukan oleh tingkat pendidikan, pada Era Informasi kesuksesan adalah milik orang-orang yang bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi secara maksimal. Pesatnya perkembangan teknologi membuat banyak lapangan pekerjaan yang baru dan belum pernah terpikirkan pada era sebelumnya. Beberapa profesi baru yang sangat terbantu dengan kehadiran Internet dan teknologi adalah youtuber, selebgram, content creator, programmer, blogger, animator, dan web designer. Tak sedikit orang-orang dengan profesi tersebut bisa meraih pendapatan yang fantastis walau tidak memiliki titel pendidikan yang tinggi. Salah satu contohnya adalah Ria Ricis yang meniti karirnya dari seorang selebgram dan youtuber dan kini menjadi artis terkenal tanah air. Gadis berusia 22 tahun ini sukses mendulang banyak rupiah dari profesinya tersebut padahal Ria Ricis saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah yang artinya belum memiliki gelar sarjana.

https://hot.detik.com/celeb/3789385/gara-gara-video-buang-squishy-ke-toilet-ria-ricis-dihujat

Semakin banyaknya orang yang sukses tanpa menggunakan gelar pendidikan, bukan berarti pendidikan adalah sesuatu yang tidak penting lagi di Era informasi. Pendidikan memiliki tujuan yang mulia yaitu untuk melatih dan mendidik generasi penerus supaya bisa survive dalam kehidupan di masyarakat sembari menanamkan budi pekerti dan nilai-nilai luhur bangsa. Kehidupan adalah sebuah pola yang dinamis karena terus berubah sesuai zaman. Apabila sistem pendidikan Indonesia tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, generasi penerus kita sedang ada dalam ancaman karena mereka tidak bisa survive dengan kompetensi yang sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Oleh karena itu, paradigma pendidikan perlu diubah dari yang biasanya membatasi kreativitas menjadi memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk berkreasi. Pola pikir bahwa pekerjaan yang menjanjikan hanyalah buruh, karyawan, dan pekerja kantoran haruslah dibuang jauh-jauh karena hanya orang-orang yang mampu beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi yang bisa survive di Era Informasi saat ini. (rizkiift)

ARTIKEL MENARIK LAINNYA  Alasan Tahun Ajaran Baru Sekolah Dimulai Bulan Juli

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tips Memilih Laptop untuk Mahasiswa

Mitos atau Fakta: Hantu-hantu Kampus UI